Month: May 2016

Eksis Disaat Krisis, Seni Mengolah Derita Saat Tanggal Tua Tiba

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

***
Konon, jika ingin keringat kita baunya terasa lebih mendamaikan di hidung tetangga, maka sering-seringlah makan daun beluntas. Ia bisa menjadi deodorant alami. Terserah mau dimakan dengan cara apapun. Dilalap enak. Dibuat bothok juga bisa.

Bagi kami, beluntas adalah hiburan saat Tanggal Tua tiba.

Adalah kakak saya, disuatu waktu ketika perut kami minta diisi sedang lauk tidak ada, akhirnya ngramban daun beluntas. Daun beluntas itu dicuci bersih terus dicampur dengan adonan tepung yang sebelumnya sudah diberi sedikit air, irisan dringu bawang dan cabe-cabean. Tidak lupa diberi sedikit garam. Beberapa butir vitsin ikut terjun juga ke adonan. Ingin turut menyedapkan makanan, katanya. Itu dulu, sekarang penyedapnya pakai Royco. Derajat ke-MSG-annya lebih rendah. Mari, tumbuh cerdas bersama MSG #eh

1
Bahan Membuat Deligu

Nah, setelah diaduk merata, digorenglah adonan itu dengan sedikit minyak. Bagusnya, proses menuang adonan ke wajan memakai teknik menuang seperti membuat rempeyek. Jadi tengahnya tebal, pinggirnya kriuk-kriuk asoy. Tapi jika tidak, juga tidak apa-apa. Setelah menunggu beberapa saat, pizza ndeso a la kami siap untuk disantap menemani nasi.

deligu

Kami menyebut makanan itu dengan Deligu. Plesetan dari Terigu. Selain beluntas, daun kenikir juga bisa digunakan untuk membuat deligu ini.

Enak? Sangat!.

Dengan modal beberapa sendok terigu, beluntas, bawang bawangan plus cabe-cabean, jadilah lauk lezat pelipur lara. Lupa sudah akan fakta bahwa saat itu dompet sedang tidak bergembira. Kalau dirupiahkan, modal makanan ini paling hanya seharga 1.500-an. Lha wong harga terigu yang dipakai seperempat kg- nya hanya 2000 rupiah. Sedang untuk membuat deligu bundar satu piring, kira-kira hanya perlu ¼ dari seperempat kg-nya.

Siapa sangka, kreasi makanan yang muncul saat-saat kepepet ketika kami masih duduk dibangku SMA-SMP dulu, justru akhirnya menjadi salah satu menu favorit kami saat ngumpul bareng, hingga kini. Ngobrol ngalor ngidul sambil menikmati deligu yang masih panas baru keluar dari penggorengan. Nyoss!

Awalnya hanyalah makanan yang sifatnya ‘daripada nggak ada yang dimakan’, tapi akhirnya malah jadi camilan primadona. Bolehlah kita sebut penemuan deligu di Tanggal Tua ini sebagai blessing in disguise.

Moral of the story: Jangan takut dengan Tanggal Tua. Bisa jadi, banyak hal-hal kreatif yang berhasil kita lakukan, sesuatu yang mungkin tidak terjadi ketika hidup berjalan normal.

***

2

Ada yang tahu, punya hubungan apa antara uang receh dan selotip ini?

Jadi, saat Tanggal Tua tiba, salah satu langkah saya untuk bisa eksis adalah dengan gerilya ‘recehan dollar’. Ketemu, dikumpulkan. Terus mencari sampai terpenuhi jumlah yang diinginkan. Uang receh yang diabaikan ketika dompet lagi makmur, tiba-tiba menjadi salah satu barang yang dicari begitu musim paceklik tiba.

Karena menyulitkan orang lain itu dekat dengan dosa, maka biar mudah menghitungnya, saya susun saja uang receh menjadi bertumpuk. Kadang pecahan 100 sebanyak 10 biji, jadilah 1000. Atau pecahan 500 disusun 10, jadilah 5000. Kemudian uang recehan yang bertumpuk itu, kita kasih selotip plastik transparan di kanan-kiri-atas-bawah sehingga mereka menjadi satu padu, tidak berlarian kemana-mana.

Kalau beli sesuatu ke toko, saya serahkan uang receh yang sudah dikelompokkan itu sambil berkata: “Bayarnya pake pecahan dollar, ya”.

Para penjual itu ho-oh ho-oh saja. Tidak menolak. Kok bisa? Bisa!

Pertama, uang-uang receh itu masih menjadi alat transaksi yang sah di negeri ini.

Kedua, uang recehan itu sudah tertata manis jadi satu. Jadi memudahkan para penjual untuk menghitungnya.

Ketiga, sesungguhnya dengan memberikan uang receh, saya sedang membantu mereka. Ketika stok uang receh mereka banyak, mereka bisa menghindarkan diri dari bilang ke konsumen: ‘Kembaliannya permen, ya’. Mereka, para pemilik toko itu, juga main media sosial, lho. Jadi mereka paham bahwa banyak netizen yang rasan-rasan soal uang kembalian yang diganti permen. Tahu dirilah ya, jadinya.

See, tanpa terasa, dengan membayar pakai recehan, saya membantu mereka menghindari mendholimi pembeli dengan tidak memberi uang kembalian dengan permen. Jadi pahala, kan? #SemacamMembesarkanHatiDiriSendiri

Itu secuplik cerita saya ketika menghadapi Tanggal Tua, bagaimana versi Anda?

***

Ada berapa orang di dunia ini yang pernah mengalami momen-momen Tanggal Tua? Pastinya buaanyyak. Tak Terhitung. Nah, orang-orang yang pernah mengalami momen Tanggal Tua itu pasti berada di situasi dan kondisi yang beraneka rupa. Maka, supaya lebih ringkes, saya coba klasifikasikan sikon Tanggal Tua menjadi 3 versi:

Versi Kelas Atas

Sesuai dengan golongannya, meski hidupnya mapan pan-pan-pan, ada saat-saat mereka juga mengalami momen Tanggal Tua. Tentu saja Tanggal Tua versi mereka. Misalnya begini:

‘Sorry, gue nggak jadi ikut Loe liat pameran mobil. Lagi Tanggal Tua. Ada uang, tapi udah gue alokasikan untuk liburan minggu depan. Khawatir gue cuma bisa ngiler.’ 

Versi Kelas Menengah

Kelas menengah, ketika mereka mengalami momen Tanggal Tua, mereka ada di situasi masih pegang uang. Cuma jumlahnya lebih sedikit dibanding jumlah biasanya. Meski Tanggal Tua, mereka masih bisa internetan dari smartphone. Dengan begitu, akses menjadi Pemburu Diskon masih tersedia.

“Din, letakkan hape loe bentar. Masa dari tadi gue dicuekin?”

“Bentar, gue lagi ngecek Matahari Mall, nih. Lagi butuh parfum. Siapa tahu ada diskonan”

“Kenapa ga beli di xxx, aja?”

“Lagi Tanggal Tua. Nyari diskonan. Lagian disini barangnya bagus-bagus dan banyak yang lebih murah”

Versi Kelas Bawah

Versi Tanggal Tua untuk masyarakat kelas bawah ya berarti benar-benar tidak ada uang. Sekedar untuk beli lauk sebagai partner nasi pun tidak ada.

Bu, lawuhe nopo?” [Bu, lauknya apa?]

Ganok lawuh. Ga nduwe duit gae blonjo. Sego, nyel” [Nggak ada lauk. Nggak punya duit untuk belanja. Cuma nasi saja]

Beda golongan, beda pula versi Tanggal Tua. Jadinya, segala advice yang cocok untuk golongan satu, tidak cocok untuk golongan lainnya. Misalnya, ada tips menghadapi Tanggal Tua dengan menyisihkan sebagian gaji bulanan. Begitu gaji bulanan cair, langsung disisihkan. Jaga-jaga ketika Tanggal Tua datang.

Bisa jadi saran ini cocok untuk golongan menengah keatas, tapi tidak cocok untuk kalangan bawah. Boro-boro menyisihkan, apa yang didapat hari ini, ya cukupnya untuk hari ini saja. Ngepres.

Meski begitu, setidaknya masih ada hal-hal umum yang bisa diterapkan oleh semua kalangan ketika menghadapi Tanggal Tua. Apa itu?

Pertama, pupuk keyakinan bahwa Allah Maha Segala-Galanya. Tidak sulit bagi-Nya untuk membuat  hambaNya terbebas dari derita Tanggal Tua. Entah dengan cara apa dan lewat siapa, yang penting keyakinan ini harus di install dulu.

sujiwotedjo

Kedua, jadilah sosok yang kreatif. Stok uang boleh menipis, tapi kemampuan berpikir jangan sampai ikut terkikis. Karena Tanggal Tua, maka muncullah ide kreatif membuat deligu. Karena Tanggal Tua, cerita tentang Budi akhirnya diabadikan.

Cerita Budi?

Iya. Tentang Budi yang bisa bertindak kreatif saat Tanggal Tua menyapanya. Kisahnya bisa dilihat disini. #JadilahSepertiBudi

Ayo ditonton. Siapa tahu menginspirasi.

Terakhir, yang penting, jangan Lupa bahagia bahkan ketika Tanggal Tua tiba.

Advertisements