Strategi Membangun Persepsi Bahwa Local Brand Lebih Keren #SmescoNV

Sebelum ke pembahasan tentang strategi membangun persepsi bahwa Local Brand Lebih Keren, kita bahas dulu pertanyaan: mengapa muncul istilah local brand? Mengapa harus tercipta dikotomi local brand dan bukan local brand?

Self Defense

Gaung ‘Satu Masyarakat Satu Dunia’ sudah lama terasa. Antara satu negara dengan negara lain sudah semakin kabur sekatnya. Orang bisa keluar masuk sebuah negara dengan mudah. Ini juga diikuti dengan arus perpindahan barang yang juga semakin tidak bisa dipersulit.

Secara alami, persaingan mulai terjadi. Antara produk hasil karya anak negeri yang akhirnya nanti kita kenal sebagai Local Brand melawan produk asing. Menggaungkan istilah local brand di tengah gempuran produk asing adalah bagian dari strategi pertahanan diri (self defense).

Dengan model pertahanan diri seperti ini, memaksa masyarakat Indonesia untuk sadar dan paham akan keberadaan merek lokal. Setelah paham. selanjutnya masyarakat akan mengambil tindakan lanjutan dengan lebih memilih produk dari produsen sebangsa dan setanah air dibanding produk asing.

‘Local Brand Lebih Keren’ adalah jargon yang diusung oleh SMESCO (Small and Medium Enterprises and Cooperatives), lembaga pemerintah yang fokus dalam mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia kepada dunia luar.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah ini dalam membantu para pelaku usaha di Indonesia tidak akan membuat hasil optimal jika pihak produsen sendiri tidak berupaya membuktikan bahwa jargon ‘Local Brand Lebih Unggul’ adalah nyata.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana membuat masyarakat aware dengan merk lokal dan tercipta persepsi bahwa merek lokal lebih keren?

Brand Awareness

Brands exist in the mind of consumers, kata Keller. Brand bukan hanya tentang nama atau logo perusahaan, tapi merupakan indicator nilai (value indicator) dari apa-apa yang kita tawarkan. Brand atau merek termasuk intangible asset yang bisa menambah atau mengurangi nilai produk yang diterima konsumen.

Aspek penting terkait brand atau merek adalah bahwa konsumen bisa membedakan merk-merk yang ada dalam sebuah kategori produk. Misalnya, seseorang yang ingin membeli mobil. Dihadapannya disediakan dua pilihan mobil yang model dan spesifikasinya mirip. Terlihat identik. Tapi, mobil yang satu ‘Made in China’, satunya ‘Made in Japan’ dengan harga lebih mahal. Jika orang tersebut memiliki persepsi yang positif terkait ‘Made in Japan’, maka orang tersebut akan memilih mobil buatan Jepang meski konsekuensinya dia harus merogoh kocek lebih dalam. Ini adalah contoh brand awareness.

Beberapa waktu lalu, di beranda FB muncul postingan tentang nilai dari sebuah produk yang sama-sama bentuknya tapi beda namanya. Sweet Ice Tea versus Es Teh.

Sumber: https://m.la-lights.com
Sumber: https://m.la-lights.com

Ternyata, meski bentuk teh-nya sama, dituang di gelas yang juga sama, tapi hanya karena namanya berbeda, yang satu memakai nama berbau internasional, satunya memakai bahasa lokal, harganya menjadi berbeda tajam.

Dari kasus teh ini, bisa dikatakan bahwa nama produk yang berbau kebarat-baratan lebih unggul nilainya dibanding jika memakai nama lokal. Masyarakat kita sampai saat ini secara sadar atau tidak masih pro yang versi barat. Makanya, banyak produsen dalam negeri yang memilih nama-nama berbau bule untuk produknya. Selain karena menyasar masyarakat internasional, juga karena nama-nama tersebut lebih terlihat keren dan berkelas. Sebut saja Essenza produk pecah belah asli Indonesia tapi dikira dari Italia, Jeans Lea yang dikira produk Amerika ternyata produk sini juga. Juga ada Edward Ferrer, Terry Palmer, Polytron dan masih banyak lagi yang ternyata termasuk produk lokal yang mendunia.

Jadi, bagaimana caranya membangun persepsi bahwa Local Brand Lebih Keren?

Ada 2 hal utama yang harus dilakukan oleh para produsen dalam negeri yakni meningkatkan kualitas produk serta mengelola merk dengan baik. Keduanya ibarat 2 sisi mata uang, tidak dapat dipisahkan.

1. Terus Meningkatkan Kualitas Produk

Apa kabar Nokia? Vendor handphone yang dulu merajai pasar telepon genggam kini sudah lenyap dari pasaran. Tidak benar-benar lenyap sih karena masih ada produknya yang beredar di pasaran. Tapi dibanding dengan masa kejayaannya dulu, kondisi sekarang tidak ada apa-apanya.

Nokia boleh berjaya di pasar telepon genggam, tapi dia melupakan satu hal: inovasi. Sehingga ketika Samsung muncul dengan Android-nya, Nokia menjadi kelabakan. Belum lagi gempuran dari vendor telepon genggam dengan logo Apel Krowak.

Pelajaran penting dari kasus Nokia adalah bahwa diatas langit masih ada langit. Jangan terlena dengan pencapaian saat ini, jika tidak ingin disalip secara tiba-tiba oleh lawan. Terus meningkatkan kualitas produk adalah cara mempertahankan kekuatan merk di masyarakat.

Begitu pula dengan produk Made in Indonesia. Syarat utama yang harus dipenuhi supaya pantas menyandang status ‘Local Brand Lebih Keren’ adalah dengan jalan terus berinovasi. Tidak berhenti meningkatkan kualitas produknya.

Apalagi di tengah arus globalisasi yang ganas seperti yang terjadi hari ini dan hari-hari selanjutnya. Orang luar bisa dengan mudah meniru produk dalam negeri. Jika produsen dalam negeri tidak terus berupaya meningkatkan kualitas produknya, ya siap-siap saja melambaikan tangan ke kamera; dadaaaahh…

Jadi, bagaimana bisa memaksakan pendapat bahwa ‘Local Brand Lebih Keren’ jika para produsen sudah cukup puas dengan pencapaian yang ada?. Dipandang berat ya berat. Tapi jika permintaan akan kualitas produk yang lebih baik dipandang sebagai tantangan yang mengasyikkan, maka ketika menjalani proses untuk membuat produk lebih bermutu akan terasa menyenangkan.

2. Mengelola Merk Yang Baik

Cara mengelola merk dengan baik:

• Melalui Media Sosial

Niluh Djelantik adalah produsen alas kaki hand made dari Bali yang juga mendunia. Ia tidak hanya merajai pasar alas kaki yang berkualitas nan berkelas di Indonesia, namun juga berhasil menembus pasar mancanegara.

Sebelum secara permanen memakai brand Niluh Djelantik, nama yang dipakai terutama untuk pasar luar negeri adalah Nilou. Tapi karena ada sedikit masalah, akhirnya diputuskan memakai Niluh Djelantik. Dari analisis nama, terlihat kalau nama ini Bali banget. Nama dengan ciri khas daerahnya begitu kentara.

Meski begitu, brand Niluh Djelantik bisa memposisikan dirinya sebagai merk premium. Persepsi atas alas kaki yang ada embel-embel Niluh Djelantik pasti harganya mahal, berkualitas dan elegan. Artinya, meski memakai nama merk yang berkesan kedaerahan, tapi karena pengelolaan akan merk nya terjadi dengan baik, maka jadinya merk yang dibuat tetap berkelas.

Kalau kita mengamati cara Mbak Niluh berinteraksi dengan customer-nya, kita akan membaca pesan bahwa Mbak Niluh yang merupakan representasi dari Niluh Djelantik adalah sosok yang cerdas, seksi, mengutamakan kualitas dan pelayanan. Dengan apa yang dilakukan Mbak Niluh dalam bersosial media, secara tidak langsung beliau telah menunjukkan cara mengelola merk dengan baik.

Ada lagi produsen yang bisa me-maintain mereknya dengan baik melalui social media, yakni brownies Dapur Gladys. Poetry Gladys sang empunya usaha hanya mengandalkan tenaga dirinya dengan dibantu beberapa asistennya untuk memenuhi pesanan brownies.

Karena banyaknya pesanan yang tidak sebanding dengan kecukupan supply-nya, maka diberlakukan sistem waiting list. Bukan hanya satu dua hari, konsumennya rela menunggu hingga berbulan-bulan. Pengelolaan terhadap sistem antriannya juga unik. Pemesanan hanya dilakukan via twitter dan dibuka hanya pada saat-saat tertentu. Dengan cara ini, kesan brownies yang enak nan eksklusif begitu kentara dan tetap terjaga. Dan tentu saja, brand Dapur Gladys menjadi semakin baik.

• Melalui Endorsement

Salah satu strategi membangun brand di jaman digital saat ini adalah dengan mengendorse orang beken. Salah satu teman saya berjualan mutiara Lombok dengan brand Indah Mutiara Lombok.

Seperti kita tahu, pengusaha mutiara di Lombok banyak sekali. Nah, untuk mengelola brand IML-nya, teman saya ini mengendorse artis. Sebutlah Astrid Uya Kuya, Henidar Amroe, Umi Pipik, Lyra Virna dan lain-lain. Masyarakat Indonesia tahu siapa mereka, bagaimana kehidupannya. Karena mengendorse orang dari kalangan elit sehingga image yang melekat pada Indah Mutiara Lombok adalah perhiasan mahal dan berkelas. Meski range harga produknya bervariatif, bahkan ada yang berkisar di bawah 100 ribu.

Penutup

Kampanye besar-besaran ‘Local Brand Lebih Keren’ yang dilakukan oleh Smesco untuk memajukan UKM Indonesia patut diapresiasi. Inilah salah satu bentuk peran negara dalam melindungi masyarakatnya.

Bahwa sedahsyat apapun gempuran produk asing, harus ditanamkan dalam diri setiap anak negeri bahwa ‘Local Brand Lebih Keren’. Hanya saja, upaya luar biasa ini tentu tidak akan membuahkan hasil optimal jika para pelaku usahanya sendiri tidak menerapkan –paling tidak- 2 strategi seperti yang dijabarkan diatas. Bukankah begitu?

Referensi:
Keller, K.L. (2004).Strategic Brand Management– Building, Measuring, and Managing Brand Equity. Pearson Education.

https://m.la-lights.com/fun/es-teh-manis-vs-sweet-ice-tea-150619o.html

Advertisements

2 thoughts on “Strategi Membangun Persepsi Bahwa Local Brand Lebih Keren #SmescoNV

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s