Month: July 2014

Cara Menghadirkan Kesegaran Dalam Berbuka

Selama lebih dari 12 jam, tenggorokan dibiarkan kering kerontang. Tidak ada setetes pun air yang masuk.

Begitu dung-dung, beduk berbunyi, langsung beberapa teguk air hangat manis membasahi kerongkongan. Dilanjutkan dengan air putih. Duh, segernyaaa…Dahaga yang menyiksa sepanjang hari, hilang sudah. Mengawali berbuka dengan air putih menjadi kebiasaan saya saat ini. Cara sederhana menciptakan kesegaran berbuka a la saya.

Kebiasaan ini sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu.

Kolak, sebelum tahun 2003 adalah menu wajib yang hadir untuk menemani acara berbuka puasa keluarga saya. Selain karena rasanya yang manis nan enak, tradisi yang ada di kampung turut memunculkan kewajiban itu. Tanpa kolak puasa seperti tidak berwarna. Begitu kira-kira 😀

Habis kolak 1 porsi masih terasa belum cukup. Menu berat lain pun disantap. Nasi dan kawan-kawannya. Dan makannya pun dengan lahap. Akibatnya, selesei berbuka perut terasa kenyang sekali. Bulan puasa belum menjadikan kami menjadi pribadi sederhana, tapi justru membentuk kami manusia berkarakter omnivora.

Kebiasaan ini tidak terjadi satu dua hari, tapi bertahun-tahun. Makanya dengan pola makan seperti ini, berat badan tidak mengalami penurunan. Meski di bulan puasa. Alih-alih turun, BB justru lebih sering naik. Karena makanan dan minuman yang dikonsumsi semunya punya andil besar menggeser jarum timbangan kearah kanan. 😀

Padahal nabi jelas melarang pola makan yang berlebihan seperti itu, dan kami sadar. Tapi praktek memang lebih berat dari sekedar berteori 😦 Dalam sebuah hadist disebutkan:

Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapaty menegakkan punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk pernafasannya” (HR.Ahmad, Ibnu Majah)”

Duh, maafkan kami yaa Rosul
***

Angin perubahan muncul pada tahun 2003. Ibu saya yang terlihat sehat tiba-tiba harus jatuh sakit, terkena stroke. Kehadiran penyakit ini seolah menyentil kami semua. Menyadarkan bahwa ada yang salah dengan pola makan kami selama ini, termasuk selama bulan puasa.

Sejak kesadaran itu muncul, perlahan-lahan gaya menyantap makanan pun berubah. Yang paling ekstrim terlihat ketika bulan puasa. Jika tahun-tahun sebelumnya, kolak atau minuman bersantan lainnya wajib ada, sejak saat itu resmi ditiadakan. Dengan kesadaran penuh.

Gantinya? Air putih saja.

Dulu ketika kolak masih mendominasi menu minuman, bisa dipastikan air putih yang masuk ke tubuh sedikit sekali. Jauh dari takaran yang dianjurkan. Bagaiamana mau minum air putih, jika perut sudah terasa kenyang dan kelempoken (kembung)? 🙂

Makanya dengan beralih ke menu air putih, kuantiatas air yang diminum sedikit banyak mendekati jumlah yang dianjurkan.

Dengan mengkonsumsi air putih sewaktu berbuka, banyak kesegaran yang kami dapat, yakni:

1. Segar dalam urusan kantong
Antara menyediakan air putih dan kolak untuk minuman, tentu kolak yang menjadi juaranya dalam urusan mengeruk dana. Air putih tidak memerlukan dana banyak untuk bisa dikonsumsi.

2. Badan Segar
Konsumsi air putuh yang cukup, akan sangat membantu dalam menjaga kesehatan kami. Akibat kurangnya minum air putih, sederet penyakit berat menanti. Naudzubillah…

3. Segar dalam masalah keimanan
Dengan air putih layak minum sebagai menu pembuka, secara tidak langsung, kami bisa merasakan kehidupan orang-orang yang kekurangan. Selain itu, dengan air putih sebagai salah satu item menu berbuka, sedikit banyak bisa meniru nabi dalam menjalani pola hidup sederhana. Jika menu ta’jil nabi kurma dan air putih, kami masih bisa meniru air putihnya. Karena tidak begitu suka dengan kurma 🙂

Dengan segudang manfaat yang ada, apakah semua air secara otomatis bisa kami minum?
Eits, tunggu dulu. Tidak semua air bisa diminum. Ada air yang masuk kategori layak minum, ada juga yang tidak boleh diminum.

Standar Air Minum

Betapa besar urgensi air minum, di Indonesia masalah air minum ini ada aturannya sendiri, lho. Peraturan itu tertuang dalam Permenkes no. 492/ MENKES/ PES/ IV/ 2010. Lembaga dunia yakni WHO juga concern dengan hal ini. Karena air adalah sumber kehidupan. Tanpa mengkonsumsi air yang layak minum, bisakah dijamin manusia bisa hidup sehat?

Ada beberapa persyaratan yang harus dipatuhi untuk menentukan air yang ada bisa diminum atau tidak.

  1. Persyaratan Fisik
    Persyaratan fisik ini berarti air bisa diminum setelah lulus sensor dari panca indera yakni airnya warnanya jernih, tidak mengeluarkan bau serta rasa yang melekat pada air itu adalah rasa yang alami.
  2. Parameter Biologis
    Air layak minum jika air itu bebas dari bakteri E.Coli dan Coliform.
  3. Air itu tidak mengandung zat radioaktif. 
  4. Parameter Kimiawi

Ada beberapa item yang harus dipenuhi terkait dengan parameter kimiawi ini:

  • Total dissolved Solid (TDS) atau disebut sebagai kandungan mineral tidak boleh lebih dari 500. Tubuh memang membutuhkan mineral, tapi dalam batas yang wajar. Jika zat mineral yang masuk ke tubuh melampui batas yang ditetapkan, bukannya bermanfaat, keberadaan zat-zat itu justru akan membahayakan kesehatan.
  • pH atau kadar keasamaan yang ada di air sehingga air tersebut layak untuk diminum adalah antara 6,5 -8,5.
  • Air layak minum jika air itu tidak mengandung zat kimia yang justru berbahaya bagi tubuh.
  • Air itu tidak mengandung logam berat.Masih ingat dengan kasus Minamata di Jepang? Peristiwa yang terjadi pada tahun 1953 itu menjadi sejarah buruk dalam perjalanan bangsa Jepang. Ratusan warganya meninggal dunia dan yang lainnya banyak yang cacat hidupnya karena air yang mereka konsumsi mengandung logam berat yakni merkuri.
  •  Air yang dikonsumsi tidak mengandung pestisida.

Itu parameternya. Lantas, darimana saja yang sekiranya bisa didapatkan sumber air minum yang layak (improved water source)? Ada banyak sumber air yang air bisa diminum, yakni: air ledeng, keran umum, sumur bor/pompa, air hujan.

Dari sumber-sumber air ini, untuk bisa dikonsumsi, air-air itu perlu perlakuan lagi yakni dimasak terlebih dahulu. Selain dimasak, ada alternatif lain juga. Yakni menggunakan alat untuk mensterilkan air dari zat-zat yang berbahaya bagi tubuh sehingga layak untuk dikonsumsi langsung. Salah satu contoh produk yang ada di pasaran adalah Pureit. Oom gugel bisa membantu teman-teman yang ingin mengetahui tentang alat ajaib ini. 🙂

Yang jelas, dengan air layak minum sebagai menu pembuka buka puasa, kesegaran akan banyak tercipata. Itu yang kami rasakan. Sepakat, ya? 🙂

Referensi:
http://fkm.unair.ac.id/iseh2011/iseh2011art/PPT%20Keynote%20speaker/Sabtu%20session%202/3%20Kemenkes%20Dirjen%20PL.pdf
http://fkm.unair.ac.id/iseh2011/iseh2011art/PPT%20Keynote%20speaker/Sabtu%20session%202/3%20Kemenkes%20Dirjen%20PL.pdf

Advertisements