Month: December 2013

Ketika TELKOM Turun Tangan Menunaikan Janji Kemerdekaan

Perempuan Dan Perangkat Teknologi

Kata para orang tua dulu, yang namanya perempuan itu identik dengan 3M: macak (dandan), masak dan manak (melahirkan). Dalam bahasa yang berbeda: kasur, sumur, dapur. Dari sini saja sudah diketahui, di area mana saja perempuan bisa bergerak.

Karena pandangan ini yang membuat kesempatan anak perempuan mengenyam pendidikan menjadi sangat terbatas. Tidak perlu sekolah dokter. Tidak penting meluangkan waktu untuk belajar ekonomi. Tidak perlu mencoba jadi arsitek atau yang lainnya. Bisa membedakan mana kencur, mana tumbar, mana merica dan kawan kawannya itu sudah cukup.

indie-jong-8-a-re-crop-crop
Potret Perempuan Djaman Doeloe

 Itu dulu. Sekarang beda lagi.

Cara pandang sudah berubah. Kalau anak perempuan tidak mengenyam pendidikan, mau jadi apa negara ini? Bukankah perempuan adalah tiang negara? Bukankah perempuan (ibu) adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya?

Perlahan-lahan para perempuan duduk di bangku-bangku pendidikan di berbagai jenjang. Dari gerakan massif ini, muncullah perempuan-perempuan terpelajar dengan berbagai disiplin ilmu yang berbeda.

Perubahan demi perubahan terus terjadi. Sampai pada suatu titik, para perempuan yang sudah bekerja dan sudah memiliki anak dihadapkan pada pilihan: memilih karir atau memilih anak? Bagi sebagian perempuan, opsi ini adalah pilihan yang tidak ingin dipilih. Kedua pilihan inginnya dimiliki semua. Ya mempunyai karir mapan, ya bisa mengasuh anak dengan baik.

Tapi…

Pilihan sering tidak berlaku ramah. Banyak kendala yang menghadang ketika seorang perempuan ingin menjalani kedua peran ini dengan seimbang. Ada yang sukses menjalaninya. Tapi banyak juga yang kerepotan bukan kepalang. Ingin anaknya dibesarkan orang lain atau dibesarkan dengan tangannya sendiri? Salah satu hal yang membuat banyak perempuan galau.

Akhirnya, dari keruwetan ini, muncullah alternatif yang bisa diambil. Bekerja dari rumah sambil mengasuh anak. Ini yang kemudian disebut dengan Work-at-Home Moms (WAHM). Dengan bekerja dari rumah, para ibu bisa mengasuh anaknya dengan lebih baik tanpa harus kehilangan eksistensinya dalam berkarya.

Karena keterbatasan waktu dan tempat untuk mengambangkan karir sekaligus mengasuh anak, maka muncullah berbagai virtual office. Praktis dengan memiliki virtual office, aneka pekerjaan yang biasanya diseleseikan di kantor, bisa diatasi dari rumah. Enak kan?

Potret Perempuan Masa Kini
Potret perempuan masa kini

Nah, untuk bisa mewujudkan virtual office bagi seorang Work at Home Moms, salah satu sarana yang tidak bisa di abaikan adalah ketersediaan internet. Dengan internet, meeting dengan klien yang jaraknya ribuan kilometer bisa dilakukan tanpa harus langsung bertatap muka. Dengan internet pula, pesanan barang dari berbagai penjuru negeri bisa ditangani dengan mudah. Iya kan, sis? Pokoknya, dengan internet, just one click! You will get everything.

Keberadaan internet memudahkan masyarakat dunia maya melakukan aktifitas ekonominya. Maka tidak heran, semakin lama semakin banyak bermunculan entrepreneur-entrepreneur rumahan. Keberhasilan banyak pedagang online menstimulus para pedagang online baru lainnya. Salah satu ciri khas dari aktifitas yang mengandalkan ketersediaan perangkat digital, para pesaing akan banyak bermunculan (Low Barrier to Entry). Semakin maraknya aktifitas perdagangan via dunia maya membuat kondisi perekonomian masyarakat selangkah lebih maju. Nilai plus yang didapat dengan memanfaatkan perangkat digital.

Mobile Broadband dan Grapari Telkomsel

Sebagai bagian dari janji kemerdekaan Indonesia, upaya untuk mencerdasarkan dan menyejahterakan masyarakat Indonesia harus dilakukan oleh berbagai elemen bangsa. Dan janji itu harus dibayar lunas, kata Anies Baswedan.

Telkom turun tangan untuk ikut melunasi janji itu. Berbagai terobosan untuk membuat masyarakat semakin mudah mengakses internet telah Telkom lakukan dengan berbagai gebrakannya. Keberadaan internet membuat transfer pengetahuan dan teknologi semakin mudah dilakukan. Para pelaku usaha akan mendapatkan berbagai kemudahan untuk berekspansi yang akhirnya nanti bisa memperbesar daya jangkau dari aktifitas ekonomi yang dilakukan.

Jika semakin banyak pelaku ekonomi yang bersentuhan dengan perangkat digital, akan semakin menguatkan daya saing Indonesia pada di tataran global. Pada tahun 2013 ini, saya saing Indonesia semakin menunjukkan kemajuan. Jika sebelumnya pada tahun 2012, peringkat Indonesia masih berada di posisi 50, saat ini pada tahun 2013, posisi Indonesia semakin bagus dengan menempati posisi 38.

Telkomsel yang menjadi bagian dari Telkom adalah operator seluler paling besar di Indonesia. Perusahaan ini menempati peringkat keenam di dunia. Sebuah posisi yang sangat prestisius.

Saat ini masyarakat memasuki era mobile broadband. Era dimana masyarakat semakin mudah mengakses internet tanpa menggunakan kabel (wireless). Telkomsel dalam upayanya menyediakan akses internet yang mudah mengeluarkan Telkomsel Flash. Dengan didukung teknologi HSDPA, EDGE, 3G, GPRS, membuat fasilitas ini bisa digunakan untuk berselancar di dunia maya dengan kecepatan yang bisa diandalkan. Layanan Telkomsel Flash ini memiliki daya jangkau terluas di Indonesia. Ini artinya, kapanpun dan dimanapun kita berada, kita masih bisa terhubung dengan internet.

Jika dulu masyarakat harus mendatangi Grapari untuk menyeleseikan berbagai persoalannya terkait dengan layanan dari perusahaan operator seluler ini, saat ini Telkomsel malakukan upaya jemput bola untuk para pelanggannya dengan menghadirkan Mobile GraPARI

 Mobile Graparai

 Sebanyak 268 unit kendaraan Mobile GraPARI disebar di berbagai titik yang ada di Indonesia, misalnya daerah Jabodetabek, Jawa-Bali, Sulawesi, Kalimantan, Maluku serta Papua. Anywhere, everywhere, Mobile GraPARI ini siap melayani para customernya.

Berbagai terobosan yang dilakukan Telkomsel untuk menyediakan akses internet yang mudah bagi masyarakat merupakan salah satu wujud aksi turun tangan Telkom untuk menunaikan janji kemerdekannya. Karena bagaimanapun, janji memang harus ditepati.

Advertisements

Grow with Character! #3

Pak Hermawan Kartajaya adalah salah satu penulis favorit saya. Tulisan ini adalah bagian dari serial Grow With Character yang beliau tulis. Jumlahnya ada 100 biji. Serial ini pernah dimuat di Jawa Pos tahun 2010 silam. Jika ingin mengenal beliau lebih dalam, bisa mengunjungi website resmi Hermawan Kartajaya atau MarkPlus. Inc

Magang di Universitas Sampoerna

GURU kedua saya sebelum membuka MarkPlus Professional Service pada 1 Mei 1990 adalah Putera Sampoerna. Itulah perusahaan terakhir saya sebelum MarkPlus.

Bagi saya, Sampoerna juga sebuah Universitas tempat saya magang. Misi utama saya selama kurang lebih dua setengah tahun di sana adalah membangun sistem distribusi sendiri.

Pak Putera sangat percaya, walaupun Sampoerna punya produk bagus, kalau distribusinya ”macet”, tidak akan ada gunanya. Padahal, waktu itu produk ”kuat” Sampoerna hanya satu, yaitu Dji Sam Soe. Produk lain ketika itu hanya bersifat ”regional”, tidak bisa nasional.

Dji Sam Soe memang sangat kuat. Bahkan sampai sekarang pun masih ”sakti”. Nyaris tidak ada brand lain yang bisa masuk ke segmen itu. Dji Sam Soe adalah rokok keretek termahal di Indonesia, bahkan di dunia. Sebab, di luar Indonesia, tidak ada rokok keretek…

Tapi, ketika itu Pak Putera berencana me-launch produk baru yang inovatif. Belakangan, kita semua baru tahu bahwa produk tersebut adalah A Mild yang merupakan terobosan pertama dari ”kebuntuan” inovasi keretek waktu itu. Persis seperti di kasus Jawa Pos kemarin, walaupun produk cukup inovatif, kalau saluran distribusi mampet, ya gak ada gunanya.

Di antara empat P-nya marketing mix, yaitu product, price, place, and promotion, place ini memang paling susah. Biasanya, orang marketing paling suka main price aja karena hasilnya bisa terlihat langsung. Turun harga hari ini, besok volume penjualan naik.

Obat keras! Tapi, bisa berbahaya karena belum tentu memecahkan masalah sebenarnya. Bahkan, kalau terlalu sering dipakai, tidak pada tempatnya, brand image bisa hancur. Kecuali kalau sebuah brand memang diposisikan sebagai low cost atau low price.

Air Asia dan Ikea misalnya, berusaha menurunkan harga barang dengan kualitas yang sama dari waktu ke waktu. Tapi, hal itu menuntut inovasi di bidang proses dan cost. Bukan sekadar banting harga!

Sesudah price, yang sering dipermainkan orang adalah promotion, antara lain, karena ”glamor”. Jadi, ngerjainnya seneng. Juga, seringkali karena terpacu pesaing!

Price war ini adalah dua ”perang pemasaran” yang sering terjadi karena relatif mudah. Inovasi produk jauh lebih sulit karena menurut statistik 80 persen produk baru gagal karena berbagai alasan.

Karena itu, orang jadi segan melakukannya. Lebih baik nunggu! Tapi, bisa telat lho…

Selain itu, kalau kita tidak pernah mengembangkan produk baru, produk sekuat Dji Sam Soe pun akan ”mati” pada suatu ketika!

Karena itulah, Putera Sampoerna meminta saya untuk membenahi distribusi. ”Tidak ada gunanya punya produk inovatif kalau macet di distribusi,” katanya.

Nah, inilah yang paling ”ogah” dilakukan orang karena banyak pihak yang akan jadi korban, sehingga ”resistansi” akan tinggi.

Waktu itu, tugas saya mirip di PT Panggung. Mengubah model keagenan jadi model branch management. Dan itu tidak gampang!

Bayangin saja, bagaimana agen-agen Sampoerna yang sudah tiga generasi tiba-tiba diambil alih fungsinya oleh seorang kepala cabang. Mereka memang sudah sangat kaya. Tapi, masalahnya, mereka tidak mau ”kehilangan muka” di daerah masing-masing. Karena itu, negosiasi harus dijalankan dengan sabar dan pelan-pelan.

Waktu itu, saya membagi wilayah Indonesia jadi 54 area dengan mempertimbangkan, antara lain, market size, jalur logistik, serta banyaknya pedagang rokok besar dan kecil. Semua data dari BPS dicampur files sendiri dianalisis dengan cermat. Selain itu, masih disisakan area yang sulit dijangkau untuk tetap dipegang penyalur khusus.

Nah, di antara 54 area itu, akhirnya ditentukan sembilan region. Angka sembilan memang angka keramat di Sampoerna. Sebab, angka itu memang lambang kesempurnaan. Saya masih ingat, waktu itu semua nomor telepon dan nomor mobil di Sampoerna selalu berjumlah sembilan!

Karena itulah juga, logo MarkPlus Professional Service yang dimulai 1 Mei 1990 tersebut pakai bujur sangkar tiga kali tiga dengan huruf M-A-R-K-E-T-I-N-G. Pas sembilan huruf kan! Angka hokkie!

Penguasaan wilayah oleh orang yang benar-benar mengerti market sangat penting bagi Putera Sampoerna. Tanpa itu, produk seinovatif apa pun yang didorong iklan sehebat apa pun tidak akan sukses. Karena masalah distribusi ini tidak glamor, orang marketing kurang suka membicarakannya. Tapi, justru di situlah kuncinya!

Jadi, banyak orang salah ngerti bahwa Philip Morris mau membeli Sampoerna dengan harga demikian tinggi cuma karena A Mild dan iklan-iklannya yang kreatif. Mereka lupa bahwa sampai sekarang pun Sampoerna kayaknya paling solid dalam distribusi dan penguasaan pasar.

Besok saya masih akan bercerita lagi pelajaran lain yang saya dapatkan selama saya magang di Sampoerna…(*)

Grow with Character! #2

Pak Hermawan Kartajaya adalah salah satu penulis favorit saya. Tulisan ini adalah bagian dari serial Grow With Character yang beliau tulis. Jumlahnya ada 100 biji. Serial ini pernah dimuat di Jawa Pos tahun 2010 silam. Jika ingin mengenal beliau lebih dalam, bisa mengunjungi website resmi Hermawan Kartajaya atau MarkPlus. Inc

Belajar dari Dahlan Iskan

SETELAH hampir dua puluh tahun saya jadi entrepreneur, kayaknya sudah waktunya melakukan confession. Paling tidak, ada tiga orang yang menginspirasi saya, sampai “berani” keluar dari Sampoerna dan membuka MarkPlus Professional Service pada 1 Mei 1990.

Pak Dahlan Iskan adalah salah satunya. Tentu saja bukan dari seorang Dahlan Iskan yang sudah terbukti bisa membesarkan Jawa Pos seperti sekarang dan bahkan diangkat pemerintah untuk memimpin PLN seperti sekarang.

Saya justru “belajar” dari Pak Dahlan yang masih sedang struggling mati-matian… Namun, saya sudah “sensing” waktu itu bahwa pada suatu ketika orang ini akan jadi somebody yang hebat. Untuk itu, saya perlu flashback ke belakang sedikit.

Ketika Pak Dahlan mulai dipercaya untuk menjalankan Jawa Pos di Surabaya, saya masih bekerja sebagai general manager marketing PT Panggung Electronic Industries.Tugas saya adalah memasarkan produk produk JVC, TEAC, MAXELL, JBL dan bekangan CASIOTONE. Di situlah saya untuk kali pertama belajar secara “praktik” bagaimana produk-produk elektronik didistribusikan. Di situ pula saya sadar bahwa sebagus apa pun produk dan sekuat apa pun brand yang dijual, akan susah dipasarkan kalau jalur distribusi tidak bagus.

Di PT Panggung yang kompleksnya ada di Waru, saya juga belajar bagaimana orang Jepang mengembangkan manajemen khasnya. Karena itu, saya jadi sering punya kesempatan untuk ke Jepang bolak-balik bersama Pak Kindarto Kohar dan Pak Ali Soebroto, “kulakan” dari berbagai pabrik elektronik tadi.

Nah, ketika itulah, Pak Dahlan sedang gencar-gencarnya membangun kembali Jawa Pos yang waktu itu oplagnya tinggal 6.000 eksemplar. Orang yang tidak punya pendidikan bisnis apa pun, tapi langsung praktik bisnis. Amazing… apalagi posisi sebelumnya, kepala biro majalah Tempo di Surabaya. Jadi murni redaksional!

Dalam membangun Jawa Pos, Pak Dahlan tidak mau ikut “aturan main” koran, yang di Surabaya “diset” oleh Surabaya Post yang koran sore. Pikirannya sederhana saja. Masa Jawa Pos sebagai koran pagi kalah dari koran sore… Tapi, masalahnya, para agen koran di Surabaya sudah tidak ada yang mau bangun subuh karena Jawa Pos tidak laku.

Satu hal fenomenal yang dilakukan Pak Dahlan, sambil membuat koran Jawa Pos menjadi different, tapi juga membuat semua karyawan jadi agen koran. Distribusi! Persis seperti yang saya lakukan di PT Panggung, yaitu menata distribusi kembali. Dari sistem distributorship menjadi branch management.

Dalam membuat Jawa Pos jadi unik, saya masih ingat Pak Dahlan yang masih ngantor di Kembang Jepun itu pernah mengatakan, “Kita jangan niru koran-koran lain yang halaman pertamanya cuma masang gambar Pak Harto tiap hari…” Jadi, waktu Indonesia masih “sangat vertikal”, justru Jawa Pos sudah “horizontal”. Di antaranya mendatangkan orang gede dari Kalimantan.

Berita tentang orang gede ini pasti “eksklusif” karena Jawa Pos yang “punya” orang itu. Pikiran dan perilaku Pak Dahlan yang dianggap aneh itulah justru yang akhirnya “membesarkan” Jawa Pos.

Pak Dahlan juga tidak segan-segan “minta tolong” kepada saya untuk dapat akses ke PT Panggung supaya bisa melihat World Cup secara langsung dari antena parabola, yang saat itu belum ada yang punya. Dengan demikian, Jawa Pos jadi koran satu-satunya yang bisa menceritakan gol-gol indah World Cup lengkap dengan ilustrasi pada keesokan harinya.

Saya juga masih ingat bagaimana PT Panggung “dirayu” Pak Dahlan untuk memasang multiscreen di Balai Pemuda untuk pameran yang di-organise Jawa Pos. Saking kagumnya saya, walaupun Jawa Pos masih kecil, saya sempat mengundang beliau masuk kelas “Marketing Management” yang saya pegang di Ubaya. Saya bahkan bikin kompetisi antarmahasiswa untuk bikin paper tentang kasus Jawa Pos.

Saya bahkan membawa case ini dalam talk saya ke mana-mana dengan konsekuensi “dimarahin” orang karena belum tentu terbukti nantinya. Tapi, itulah yang saya lakukan..

Kenapa?

Karena sambil mendiskusikan kasus itu, saya akan memperkuat “konsep marketing” yang saya baca di buku-buku dengan kenyataan praktiknya. Itulah saya “belajar” dari seorang Dahlan Iskan!

Selain itu, tentu saja, tulisan Reboan saya yang berjalan sejak saya masih bekerja di PT Panggung dan berlanjut ketika di Sampoerna. Dengan “terpaksa” menulis tiap Rabu, saya jadi harus banyak mencari kasus current affair untuk dibahas dalam kerangka konsep marketing. Saya selalu mengusahakan tulisan saya tidak keluar dari koridor marketing, walaupun kasus yang dibahas bisa segala macam.

Misalnya, saya masih ingat artikel pertama saya di Jawa Pos adalah tentang Konser Pepsi Cola di Jakarta yang menampilkan Tina Turner. Saya menulis bahwa Tina Turner dengan voice power-nya yang saya lihat sendiri, pas untuk memperkuat positioning Pepsi sebagai brand yang mau different dari Coke yang klasik.

Tapi saya juga menulis tentang kekaguman saya terhadap Lady Di yang berhasil memosisikan diri sebagai people’s princess mumpung tidak disukai oleh keluarga kerajaan! Dua kasus berbeda tapi konsep analisisnya sama. Dengan melakukan itu, saya berusaha supaya tulisan Reboan saya harus “hot”, tapi tetap “marketing”

Jadi, selain saya “mengaku” bahwa selain belajar “marketing” dari Pak Dahlan, saya memang sudah berusaha “memosisikan” diri sebagai “professional marketing analyst” sebelum 1 Mei 1990, waktu dilahirkannya MarkPlus Professional Service di Surabaya.

Besok saya akan membuka “rahasia” yang lain. (*)

 

Grow with Character! #1

Pak Hermawan Kartajaya adalah salah satu penulis favorit saya. Tulisan ini adalah bagian dari serial Grow With Character yang beliau tulis. Jumlahnya ada 100 biji. Serial ini pernah dimuat di Jawa Pos tahun 2010 silam. Jika ingin mengenal beliau lebih dalam, bisa mengunjungi website resmi Hermawan Kartajaya atau MarkPlus. Inc

SATU Mei 1990 adalah tanggal bersejarah buat saya. Itulah hari pertama saya tidak menjabat direktur distribusi PT HM Sampoerna. Dan itulah hari pertama saya juga memulai MarkPlus. Tanggal itu juga merupakan hari pertama saya menjadi seorang entrepreneur.

Sehari sebelumnya, saya masih memegang kartu nama keren PT HM Sampoerna. Direktur Distribusi PT HM Sampoerna. Sehari sebelumnya saya masih berkantor di pabrik Sampoerna di Kompleks Surabaya Industrial Estate Rungkut atau sering disebut SIER. Sehari sebelumnya saya masih punya “anak buah” sekitar 1.600 orang di seluruh Indonesia yang terbagi di 54 area. Satu area bisa meliputi dua atau tiga kabupaten. Maklum, jualan rokok kan mesti merata, apalagi Dji Sam Soe yang sudah merakyat.

Pada hari itu, pas satu Mei 1990, saya resmi menggunakan kartu nama MarkPlus Professional Service. Begitu saya menyebutnya, karena waktu itu saya berpikir pokoknya siap melakukan “professional service” apa pun! Karena kantor belum ada, ya berkantor di rumah aja, Taman Prapen Indah C-8 Surabaya.

Saya hanya berpikir, waktu itu, bahwa alamat itu memang “kurang profesional” karena tidak di perkantoran, tapi tidak terlalu “kebanting”. Waktu itu juga belum ada kompleks perumahan yang keren seperti sekarang: Galaxy, Ciputra, Pakuwon, dan sebagainya. Jadi, Kompleks Prapen yang “indah” sudah cukup lumayan, karena tempatnya bersih dan dihuni banyak eksekutif.

Jadi, paling tidak, biar ada persepsi memang MarkPlus ini perusahaan one man show, tapi didirikan oleh seorang ex top executive dari sebuah perusahaan besar di Surabaya. Karyawannya belum ada. Kenapa?

Pertama, saya memang belum berani menggaji orang. Kalau nggak laku bagaimana? Kedua, ya memang nggak ada yang mau bekerja untuk saya.

Sebenarnya, terus terang, sebulan sebelum “resign” dari Sampoerna, saya memang minta tolong kepada anak buah saya yang pintar desain untuk mendesain logo MarkPlus. Maksudnya, supaya begitu keluar dari Sampoerna, saya sudah memegang kartu nama sendiri dengan logo yang lumayan.

Kartu nama adalah yang saya pikir lebih dulu, karena takut nggak punya identitas begitu tidak di Sampoerna lagi. Nah, anak buah saya inilah yang saya ajak berdiskusi tentang logo tersebut di luar jam kerja

Saya, bahkan, bercerita hanya pada dia secara “confidential” tentang rencana saya tentang MarkPlus yang mulai 1 Mei. Ketika itu, dia kelihatan sangat antusias membantu saya untuk mempersiapkan logo, termasuk aplikasinya di kop surat dan amplop. Tapi, akhirnya, saya kecewa berat ketika dia tidak mau jadi karyawan pertama MarkPlus Professional Service!

“Maaf Pak, saya nggak berani ambil risiko…” katanya sambil menundukkan muka.

Dengan terus terang dia mengaku tidak “sure” sampai kapan MarkPlus bisa bertahan. Padahal, di Sampoerna dia sudah lumayan “mapan” walaupun termasuk karyawan “kelas bawah”. Begitulah situasi hari pertama MarkPlus waktu itu.

Ketika saya bangun pagi, terasa agak aneh. Biasanya saya mandi pagi-pagi, takut telat ke kantor karena harus memberi contoh kepada anak buah. Pakai baju seragam Batik Sampoerna sesuai dengan warna yang diwajibkan untuk hari itu.

Di Sampoerna, waktu itu, kami semua diberi tiga macam batik seragam dengan tiga warna. Senin-Kamis, Selasa-Jumat dan Rabu-Sabtu masing-masing satu warna.

Pada 1 Mei itu saya bangun memang agak siangan, tapi agak bingung apa yang akan dilakukan hari itu. Sebab, mendadak sudah tidak perlu pakai batik lagi setelah bertahun-tahun. Kayak ada yang “hilang”.

Sehari sebelumnya saya juga sudah mengembalikan mobil dinas Toyota Crown Royal Saloon. Hari itu saya mulai menyetir mobil saya sendiri.Toyota Corolla baru, tapi cicilan…! Semuanya mendadak terasa hilang! Ya, kantor bagus, mobil bagus, anak buah, seragam, bahkan kartu nama keren.

Saya masih ingat, saya hanya punya tabungan lima puluh juta rupiah waktu itu. Dua puluh juta rupiah saya pakai untuk downpayment Toyota Corolla, sisanya yang tiga puluh juta untuk cadangan.

Karena belum ada klien yang mau pakai jasa profesional saya pada hari pertama, mau tahu apa yang saya lakukan? Percaya atau tidak, saya menulis artikel Reboan untuk Jawa Pos sebanyak mungkin! Waktu itu saya memang sudah diajak Pak Dahlan Iskan yang baru membangun Jawa Pos beberapa tahun untuk menulis rutin di Jawa Pos bersama lima orang Surabaya lain. Kebetulan saya memilih Rabu. Penulis lain ada yang memilih hari lain.

Itulah cara Pak Dahlan “mengangkat” citra orang Surabaya yang tidak mungkin dapat kolom di media ibu kota. Saya suka Rabu, karena ada di pertengahan pekan.

Jadi, sejarah MarkPlus yang segera merayakan HUT Ke-20 pada 1 Mei 2010 ini memang sangat tidak dipisahkan dari Jawa Pos! Ada semacam hubungan “spiritual”. Besok, saya akan bercerita lebih detail tentang hal ini. (*)